Sadis, cerita tukang becak yang pemakamanya tak di urus oleh keluarganya

Muhammad Agus Hariono (51), warga Putro Agung III/38 Tambaksari ditemukan meninggal di atas becak. Warga sekitar membantu pemakamannya karena ayah tirinya tak peduli dengan kematiannya.
Agus ditemukan meninggal pada Kamis (13/7) pukul 16.45 WIB. Ia meninggal di atas becak yang menjadi roda penggerak kehidupannya. Agus adalah tukang becak yang biasa mangkal di gang Putro Agung
“Iya, dia (Agus) tukang becak. Biasanya suka mangkal di depan gang situ sama becak-becak lain. Tapi ya karena dia nggak punya rumah akhirnya tinggalnya ya di becak, tidur di becak, kalau mandi atau mau ke toilet dia biasanya ke toilet umum di seberang jalan,” kata Wiwik Yuniarti, istri ketua RT III Putro Agung, Tambaksari saat ditemui detikcom, Selasa (18/7/2017).
Sebelum tidur di becak, Agus sempat tinggal di rumah di Jalan Putro Agung III/38. Ia tinggal bersama ibu dan ayak tirinya yang bernama Darto (60). Darto adalah suami pernikahan ketiga ibunya. Setelah ibunya meninggal, Agus meninggalkan rumah tersebut karena merasa ia tak punya hak lagi tinggal di rumah tersebut. 
Agus tidak mau tinggal di rumah itu, dan memilih tinggal di becak, meski tempat ia mangkal tak jauh dari rumah tersebut. Darto juga tak mempedulikan Agus. Keluarganya yang lain pun juga tidak ada yang menggubris atau peduli pada Agus. Agus sendiri menurut warga termasuk pribadi yang pendiam, tertutup dan semaunya sendiri. 
Jenazah Agus ditemukan, Kamis (13/7/2017) pukul 16.45 oleh dokter yang kebetulan sedang lewat di gang itu. Dokter itu melihat ada tukang becak yang tidurnya tak kunjung bangun. Kemudian ia meminta tolong kepada warga untuk membangunkan Agus. 
“Pas lagi di bangunin badannya itu udah kaku takutnya dia meninggal. Untungnya waktu itu ada dokter yang lewat trus sama dia disuruh bawa ke rumah sakit pas udah dibawa dan di periksa ternyata udah meninggal,” cerita Ateng (34) warga Putra Agung III yang biasa memberikan makan siang untuk Agus. 
“Saya itu ya kasian banget nelongso banget sama Agus itu, orang miskin itu bener-bener nggak diurus sama keluarganya,” lanjut Ateng.
Ateng bercerita, saat Agus sudah meninggal, tak ada keluarga dan saudaranya yang mengurusi. Ateng sempat berinisiatif hendak mendobrak rumah Darto untuk jenazah Agus disemayamkan. Namun ketua RT mencegahnya agar tak ada kejadian yang tak diinginkan.
“Saya nggak peduli, orang Agus itu lho warga sini. KTP-nya warga sini. Saya nggak ngurus kalo sampe masuk penjara gara-gara masuk ke rumah orang tanpa izin. Orang saya nggak mencuri niatnya mau bantu buat sarehannya (persemayamkan) Agus. Masa di rumah sendiri nggak boleh. Akhirnya sama warga dibawa ke Balai RW situ,” cerita Ateng seraya berkaca-kaca matanya.
Ateng mengatakan kalau ayah tiri Agus, Darto adalah pelanggan di warungnya ketika jam makan siang. Ketika Agus dikabarkan meninggal ia seketika menegur Darto. 
“Kamu itu udah diberitahu sama warga kalau Agus meninggal kok kamu malah santai-santai disini. Awas lho kamu itu udah tua nanti kena batunya,”. 
Namun Darto tidak menggubris dan hanya berkata, “Biarin, Biarin,” 
Mungkin merasa tersindir Darto segera meninggalkan warung tersebut. 
Sesaat setelah dibawa ke rumah sakit, Agus sudah dinyatakan meninggal oleh dokter dan langsung dibawa ke Balai RW setempat untuk disemayamkan. Untuk biaya dan keperluan pemakaman para warga memberikan dana santunan pada Agus saat proses pemakaman berjalan. Jenazah Agus dimakamkan di pemakaman Rangkah.
“Totalnya berapa saya kurang tahu. Pokoknya sisanya Rp 630.000 itu saya serahkan ke Yuni, warga sini yang saya tunjuk untuk koordinasi acara selametan tiga sampai tujuh harinya Agus meninggal,” kata Supriyadi, Ketua RT III Putra Agung Rangka Tambaksari. 
Supriyadi mengatakan ia kesulitan untuk mengurus surat kematian almarhum karena surat KSK yang dimiliki Agus kurang diketahui dimana keberadaannya.
“Pas di RW saya sempat ngurus sama pak RW, ada suratnya itu tapi foto kopian dan itu dibutuhkan yang asli. Jadi agak repot, kan kalau nggak segera di urus surat kematiannya sebentar lagi mau pilgub takutnya ada oknum yang sembarangan ngaku-ngaku,” tambahnya. 
Satu-satunya barang peninggalan Agus yang tersisa berupa becak. Rencana Supriyadi, becak itu ingin dijual dan uang hasil penjualan tersebut diberikan pada masjid. Namun harus ada persetujuan saudara tiri Agus yang berada di Malang. 
Supriyadi juga sempat menghubungi saudara tiri Agus, Letti yang berada di Malang untuk mengunjungi kakak laki-lakinya ini yang sudah meninggal. Namun hingga saat ini saudara tiri Agus itu tak kunjung datang.