The Lucky Pak Sabeni Bisikan Ghaib

Anna

Perkenalkan namaku Anna,usiaku kini 24 tahun.Aku dan suamiku Hendra tinggal di perumahan elit di Jakarta.Kami menikah tiga bulan yang lalu, teman teman kami bilang bahwa kami adalah pasangan yang sangat serasi, karena kami sama sama memiliki wajah yang rupawan,Hendra sendiri adalah laki laki yang sangat tampan dan juga gagah, ia adalah keturunan Tionghoa, sedangkan aku juga memiliki wajah yang sangat cantik, darah Indonesia – Pakistan yang mengalir dalam diriku menjadikanku cantik ala gadis timur tengah dengan bulu mata lentik, rambut hitam panjang terurai, dan kulit yang putih bersih, namun siapa sangka bahwa hubungan rumah tanggaku bersama Hendra terasa hampa karena sejak kami menikah tiga bulan yang lalu, aku belum pernah disetubuhi oleh Hendra. Aku masih perawan karena Hendra suamiku mengalami disfungsi alat vital, itu semua disebabkan karena kecelakaan hebat beberapa tahun yang lalu sebelum aku bertemu Hendra, tapi ini aku ketahui setelah kami menikah,karena Hendra memang sengaja merahasiakannya padaku,alasannya karena Ia teramat cinta dan sayang kepadaku,Hendra tak ingin kehilangan aku,sebenarnya aku merasa kecewa,namun perasaan itu hilang mengingat betapa sayang dan cintanya Hendra kepadaku yang begitu besar sampai sampai apapun yang kumau selalu diturutinya.Sering kami mencoba untuk berhubungan intim layaknya suami istri tapi lagi lagi batang penis Hendra tak mau berdiri.Sudah berbagai cara kami lakukan termasuk konsultasi dokter ,akan tetapi sampai sekarang tidak menunjukkan hasil yang kami harapkan.Menurut keterangan dokter ada syaraf yang putus dalam alat vital Hendra,sangat mustahil bisa kembali utuh. Walaupun begitu suamiku adalah seorang pekerja keras,itulah sebabnya kariernya selalu meningkat,karena dalam pikirannya yang ada hanya kerja,kerja ,kerja,itulah sebabnya Hendra kini memiliki posisi yang sangat penting dalam perusahaannya yaitu sebagai vice president direktur.Soal materi kami tidak pernah ada masalah,karena penghasilan Hendra sudah lebih dari cukup,kami bisa punya rumah yang bisa dibilang mewah,dan oleh suamiku,aku diberi hadiah mobil mewah setelah menikah. Secara fisik aku adalah wanita yang banyak didambakan oleh kaum pria,dengan wajah yang cantik ala gadis blasteran karena dalam diriku mengalir darah indonesia pakistan dengan tinggi badan 174 cm, ukuran payudara 34D,dan kedua bongkahan pantat yang semok membulat besar,sehingga banyak pria yang selalu tergoda oleh kecantikan dan kemolekan tubuhku. Kehidupan seks dalam rumah tangga kami mulai mendapat warna setelah sebuah peristiwa, berikut kutuliskan ceritaku,

##########################

Hari itu Hendra pulang dari kantornya, namun karena nasib lagi apes ia menabrak seorang laki laki tua yang tengah melintas tiba-tiba saat mobilnya melaju. Melihat laki-laki tua itu betapa kagetnya Hendra karena laki-laki itu adalah Pak Sabeni orang yang sudah menolongnya beberapa tahun yang lalu saat ia mengalami kecelakaan hebat hingga mobilnya meledak dan terbakar,mungkin kalau tidak ditolong oleh Pak Sabeni mungkin Hendra tidak akan bisa selamat.Tapi orang tua yang sudah menolongnya itu kini tergeletak di jalan bersimbah darah.Segera saja Hendra menggotong Pak Sabeni masuk ke dalam mobil dan membanya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Pak Sabeni langsung dibawa ke ruang UGD untuk menjalani perawatan .Hendra menunggu dengan hati yang berdebar debar, ia berdoa semoga tidak terjadi apa apa pada Pak Sabeni. Dokter Lydia yang menangani pria itu keluar dari ruangan dan memberikan keterangan bahwa kondisi Pak Sabeni membaik
Untunglah segera dibawa ke rumah sakit karena sudah banyak darah yang keluar dokter cantik berumur 35 tahun itu menjelaskan, juga berkat kondisi fisik beliau yang cukup prima walaupun sudah berumur, beliau mungkin perlu rawat inap sekitar dua minggu untuk pulih sepenuhnya
Mendengar itu semua Hendra menjadi lega,dan meminta ijin kepada Dokter Lydia untuk melihat keadaan Pak Sabeni,setelah masuk ke dalam Hendra melihat Pak Sabeni sudah sadar. Kondisinya cukup parah, kepalanya harus mendapatkan dua jahitan dan dibalut perban, tangan kirinya mengalami cedera tulang sehingga harus digips, namun pria itu nampak tegar dan berusaha tersenyum ketika Hendra muncul di ambang pintu.
“Maafkan kecerobohan saya ya Pak, ?”Hendra meminta maaf kepada Pak Sabeni
“Gak apa apa Den,lagi pula semua sudah terjadi,dan kondisi saya juga semakin membaik”kata Pak Sabeni
“Oh ya..Den Hendra sendiri gimana kabarnya,?”Pak Sabeni menanyakan kabar Hendra
“Kabar saya baik Pak…Pak Sabeni sekarang tinggal dimana ?”Hendra menanyakan tempat tinggal Pak Sabeni
“Saya tinggal di bawah jembatan ,dekat dengan kantor Den Hendra”jawab Pak Sabeni
Mendengar jawaban Pak Sabeni hati Hendra rasanya seperti teriris,karena orang tua seperti Pak Sabeni di usianya yang sudah tua itu harusnya tinggal menikmati enaknya saja,tapi Pak Sabeni di usianya yang semakin tua malah sengsara tidak punya tempat tinggal yang tetap dan layak.Untuk itulah Hendra bermaksud menawarkan pekerjaan kepada Pak Sabeni sebagai tukang kebun di rumahnya,selain untuk menebus rasa bersalahnya juga untuk membalas jasa Pak Sabeni yang sudah menyelamatkan nyawanya beberapa tahun yang lalu, lagipula dirumahnya hanya ada satu pembantu perempuan,yaitu Mbak Marni,kasihan juga Mbak Marni yang mengurusi rumah sebesar dan seluas milik Hendra. Ketika ditawari pekerjaan itu Pak Sabeni dengan senang hati menerimanya. Pak Sabeni,orang tua itu bernama Sabeni usianya kini 62 tahun,Pak Sabeni hidup sebatang kara di Jakarta istri dan ke lima anaknya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu,rumah dan harta Pak Sabeni dulu habis dijual untuk mengobati istri dan kelima anaknya yang sakit keras,Kini Pak Sabeni hanya tinggal mempunyai satu anak laki laki yang bernama Maman,tapi karena kebengalan dan kenakalan Maman sejak kecil ,anak laki laki Pak Sabeni itu kini meringkuk dipenjara karena telah banyak terlibat dalam tindak kejahatan,dan akhirnya Pak Sabeni harus sebatang kara hidup di kolong jembatan yang kumuh.Sehari harinya Pak Sabeni bekerja sebagai kuli panggul di pasar,sebab itulah walaupun sudah tua usianya Pak Sabeni masih kelihatan kuat.

#######################
Malam itu, dalam tidur Pak Sabeni di kamar rumah sakit
Pak Sabeni

Sabeni!! Sabeni!! SABENI!!!
Pria tua itu clingak-clinguk melihat sekelilingnya yang gelap, tangannya meraba-raba namun sepertinya kegelapan itu tanpa batas, tangannya tidak menyentuh tembok atau benda apapun di sekelilingnya.
Iya…siapa itu? ini di mana saya? tanya Pak Sabeni bingung.
Sabeni…hidupmu sudah lama menderita, keluarga sudah tidak ada, harta pun tidak ada… sahut suara tanpa wujud itu.
Iya..iya sih, situ siapa kok tau? tanya pria itu.
kami tahu segalanya Sabeni, engkau menderita, namun engkau begitu tabah menjalani hidup tanpa mengeluh…untuk itu Sabeni, ada ganjarannya Sabeni…engkau akan sembuh dan mendapat kehidupan yang lebih layak, dan satu lagi wanita yang membuatmu tertarik akan bisa kau dapatkan?
mendapatkan wanita? Maksudnya?
Hehehehe…engkau sudah lama tidak merasakan nikmatnya hubungan badan benar? tanya suara ghaib itu.
Ehh…iya sih, abis gimana lagi segalanya udah gak ada, modal pun gak ada jawabnya garuk-garuk kepala.
Maka itu mulai kini engkau bisa menikmati setiap wanita yang menarik hatimu, dalam arti secara fisik, bukan mendapatkan hatinya, kalau itu sih tergantung usahamu sendiri…di luar kuasa kami…
Wah yang bener, asyik dong jadi saya bisa gituan sama cewek-cewek cantik yang saya sukai? Pak Sabeni girang setengah tak percaya.
Ya benar itu…siapapun yang kau mau dan kau ajak dengan tingkat keberhasilan 70 persen!
70 persen? Maksudnya?
Ya…siapapun yang kau ajak berhubungan seks kemungkinan besar akan diterima, tapi juga ada kemungkinan 30 persen tidak
eeeerr…tidaknya kalau apa?
wanita itu tidak akan berhasil kau ajak kalau….
Sebelum suara gaib itu selesai menjawab tiba-tiba kegelapan itu tiba-tiba menjadi cahaya terang menyilaukan. Pak Sabeni sampai merem-merem dan melindungi mata dengan telapak tangan.
Selamat pagi Bapak! Maaf mengganggu tidurnya ya? Sekarang saatnya minum obat! kata seorang perawat pria membuka tirai jendela dan cahayanya langsung mengenai pria itu.
Beuh…cuma mimpi ternyata, aneh-aneh aja, tapi beneran ga ya? Kalau apa tadi syaratnya ya? Sialan belum beres udah kebangun omelnya dalam hati.
Sudah lebih baikan Pak? photomemek.com tanya si perawat pria itu ramah sambil menekan tombol di samping ranjang untuk menaikkan sandaran.
Yah mending lah Dik, cuma masih sakit nih badan

#########################
Sepuluh hari kemudian

Kondisi Pak Sabeni membaik, ia sudah diperbolehkan pulang. Hendra datang menjemput pria setengah baya itu untuk membawanya ke rumahnya.
Saya akan membuka gips Pak Sabeni dan melakukan pengecekan final kata Dokter Lydia, setelah itu saya akan urus administrasinya lalu Pak Sabeni boleh pulang dengan anda ia tersenyum sehingga wajahnya nampak semakin manis.
Oke deh Dok, sementara itu saya akan makan siang dulu di seberang yah, daritadi belum makan nih hehe… kata Hendra.
Baik Pak Hendra, saya pastikan semuanya selesai setelah anda kembali nanti kata Dokter Lydia.
Hendra pamit sejenak untuk makan siang sambil menunggu semuanya beres. Sambil menikmati makan siangnya di sebuah rumah makan Padang di seberang rumah sakit, sesekali ia membalas BBM yang masuk ke smartphone-nya berhubungan dengan urusan pekerjaan. Sekalian menjemput Pak Sabeni ia juga berencana untuk bertemu klien di situ agar sekali jalan. Ia juga mengabari istrinya, Anna, bahwa semua sudah selesai dan minta agar minah membereskan kamar kosong untuk tempat tinggal Pak Sabeni.

##########################
Sementara itu di kamar VIP, sepuluh menit setelah Hendra pergi….

“Aahhh…aahhh…yah…terus…terussshh!!!” suara desahan wanita memenuhi kamar tersebut bercampur dengan lenguhan pria.
Di atas ranjang pasien, seorang wanita tengah bergerak naik turun di atas penis seorang pria. Peluh bercucuran menetes dari dahi wanita berparas ayu tersebut. Sebuah jas putih dokter dan stetoskop tergantung pada sandaran kursi di sebelah ranjang tersebut. Wanita itu masih memakai pakaiannya, hanya saja sudah terbuka atas-bawah. Kancing kemeja birunya sudah terlepas semua, bra putihnya tersingkap ke atas menampakkan payudara penuh wanita itu yang diremasi oleh tangan kasar si pria yang berbaring di bawahnya.
Ahh… ahh… enak Bu Dokter…uuhhhh! pria itu ikut mendengus merasakan penisnya seperti dikocok-kocok, dipelintir dan dihisap-hisap dengan sangat nikmatnya, matanya merem-melek menahan nikmat yang tak terperi.
Ya, wanita itu tidak lain adalah Dokter Lydia dan pria yang sedang ditungganginya itu adalah Pak Sabeni. Semakin lama, gerakan pantat dokter cantik itu semakin cepat. Kepalanya sudah terdongak dengan deru nafas mendengus seperti orang yang sedang berlari. Plok…plok…plok…plok…bunyi tepukan alat kelamin mereka yang beradu terdengar nyaring menyemarakkan suasana mesum di kamar VIP tersebut.
Ehh… euh Pak… hekss euh desahan sensual terus menerus keluar seiring dengan hempasan pantat Dokter Lydia yang menekan selangkangan si pria tua.
Pak Sabeni meraih tombol di sampingnya dan menekannya, sandaran ranjang pun bergerak naik sehingga posisi pria itu kini terduduk di ranjang dengan kedua gunung kembar Dokter Lydia tepat di depan wajah buruknya. Gemas melihat pemandangan itu, Pak Sabeni langsung melumat kedua gumpalan kenyal tersebut. Mulutnya yang bergigi ompong mencaplok payudara kiri dokter cantik itu, lalu ia mainkan lidahnya pada putingnya, terkadang ia gigit kecil puting yang makin mengeras itu.
Aaahhsss….mantap Pak, teruus hisap pentilku yah…aahh lenguh Dokter Lydia sambil menggoyangkan pantatnya naik turun semakin cepat. Pak Sabeni pun mengimbangi dengan genjotan pinggul seirama dengan gerakan naik turun Dokter Lydia. Desah kenikmatan mereka semakin ramai seolah tidak peduli terdengar orang dari luar, memang kamar VIP ini juga terletak di lantai atas dan agak ke ujung sehingga jarang dilalui orang. Goyangan pantat Dokter Lydia semakin heboh, genggaman tangannya di bahu pria itu semakin kencang. Penis Pak Sabeni kemudian merasakan cairan hangat yang mengucur di dalam vaginanya. Gerakan Dokter Lydia pun melambat, lalu keduanya berpagutan bibir.
Hsshhh…hhhssss…rasanya sudah cukup sebelum Pak Hendra datang kata Dokter Lydia yang nafasnya sudah mulai teratur
Udah gak pengen lagi dok? Ini hari terakhir saya di sini loh tanya Pak Sabeni sambil menggerakkan pinggul berputar perlahan sehingga penisnya mengaduk pelan vagina Dokter Lydia.
Bukannya gitu, tapi masih ada kerjaan juga Dokter Lydia lalu turun dari ranjang, saya mau selesaikan dulu administrasinya

Dokter cantik itu merapikan kembali pakaiannya dan baru mau mengambil jas dokternya yang tergantung di kursi ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Ya…Pak Hendra! ia menerima telepon itu yang ternyata dari Hendra.
Belum…belumm….oohhh… ia mendengar Hendra berbicara di seberang sana sambil mengancingkan bajunya, oh gitu…baiklah Pak…gapapa kok gapapa…santai aja Pak Sabeni juga bisa menunggu kok…oke…oke…baik
Ia menutup pembicaraan, Pak Hendra kelihatannya bakal telat jemput, soalnya sedang ada pembicaraan dengan mitra bisnis, dia bilang kalau Bapak lapar makan aja di kantin atau nyusul ke seberang
Saya belum lapar kok,dibanding makan, saya lebih pengen sama dokter aja hehehehe…. Pak Sabeni meraih pergelangan tangan Dokter Lydia yang hendak mengambil jas putihnya dari kursi.
Eehh..Pak…udah ah!! protes dokter cantik itu,
Tanpa berkata apa-apa lagi, pria tunawisma itu langsung mendekap Dokter Lydia dan mencium bibirnya. Dokter cantik itu tidak sempat menghindar, bahkan ia juga membiarkan ketika bibir tebak Pak Sabeni menempel ke bibirnya hingga beberapa saat. Dadanya semakin berdegub kencang ketika kurasakan bibir pria itu melumat mulutnya. Lidahnya yang kasap menelusup ke celah bibir tipisnya dan menggelitik hampir semua rongga mulutnya. Mendapat serangan tersebut Dokter Lydia merasakan darah di dalam tubuhnya berdesir, sementara bulu tengkuknya merinding.
“Aduh Pak, udah dong nanti ada yang dateng gak enak..! ” Dokter Lydia memalingkan wajah dan melepas ciuman pria itu.
Sebentar aja Bu, saya main cepet aja tapi dijamin bikin bu dokter puas deh! kata Pak Sabeni yang kedua tangannya memeluk pinggang ramping wanita itu dengan erat.
Pria itu lalu kembali mendaratkan ciumannya. Ia menjilati dan menciumi seluruh wajah wanita itu, lalu merambat ke leher dan telinganya. Dokter Lydia pun dengan cepat kembali dikuasai nafsu birahinya, napasnya mulai terengah-engah lagi, mulutnya mendesis-desis menahan kenikmatan yang menerpanya. Tangan Pak Sabeni yang kasar membuka kancing kemeja Dokter Lydia.
“Jangan buka semua dong Pak! Berabe nanti kalau ada orang…” protes Dokter Lydia sambil meronta dari pelukannya.
“Kan pintunya dikunci Bu, nanti kalau ada yang dateng ibu buru-buru ke toilet, saya akan memuaskan bu dokter sebelum pulang” jawab Pak Sabeni dengan napas memburu.
Tanpa menghiraukan protes Dokter Lydia, Pak Sabeni yang telah melepas kemeja wanita itu, kini sibuk melepas bra-nya. Sebentar kemudian, di pelukan pria itu, buah dada dokter cantik itu terbuka tanpa penghalang. Setelah itu Pak Sabeni merebahkan tubuh Dokter Lydia di ranjang pasien. Tanpa membuang waktu lagi, bibirnya melumat payudara kiri wanita itu sementara salah satu tangannya juga langsung meremas-remas yang lainnya. Dengan rakusnya ia menjilati dan meremas buah dada yang kenyal dan putih itu.

Dokter Lydia kini terbaring pasrah dengan kaki satu lurus dan satunya tertekuk membuat rok span warna hitamnya tersingkap semakin ke atas. Bokongnya nampak semakin sexy dari samping. Keindahan pahanya pun semakin terpampang, mulutnya megap-megap dan mengerang karena kenikmatan yang telah menyelubunginya. Tubuhnya menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan karena rasa geli dan nikmat ketika bibir dan lidah Pak Sabeni menjilat dan melumat puting susunya. Tak lama kemudian Pak Sabeni membuka piyama pasiennya hingga hingga telanjang bulat.
Roknya saya buka aja yah dok, biar gak kusut kata pria itu sambil membuka ikat pinggang Dokter Lydia.
Wanita itu mengangguk saja dengan nafas terengah. Pak Sabeni melucuti satu-satunya pakaian yang tersisa di tubuh wanita itu, kemudian ia menindihnya dan memeluknya tubuh Dokter Lydia dengan erat, payudara dokter cantik itu terhimpit di dadanya. Tangan kasar Pak Sabeni meremas kuat bokong Dokter Lydia yang bulat indah. Kini mereka berpelukan dan berciuman dengan sangat menggebu-gebu tanpa sehelai benang pun di tubuh. Di tengah percumbuan panas itu, Pak Sabeni mendesakkan penisnya ke arah vagina Dokter Lydia yang menyambutnya dgn melebarkan selangkangannya sehingga vaginanya benar-benar siap menerima penis pria itu
AArrrrgghseretnya!! Pak Sabeni menggeram pelan ketika perlahan penisnya mulai mendesak masuk ke dalam vagina Dokter Lydia, pelukannya semakin erat.
Eeemmmhhh Pak Dokter Lydia mendesah menyambut penis pria itu dgn memajukan pinggulnya hingga penis itu makin tenggelam dalam cengkeraman vaginanya
Tangan Pak Sabeni meremas pantat Dokter Lydia dengan kuat ketika dia mulai mengeluar masukkan penisnya ke dalam vagina wanita itu. Tubuh Dokter Lydia bergetar ketika sodokan penis Pak Sabeni pada vaginanya semakin cepat dan kuat. Ia memeluk Pak Sabeni dengan erat, kadang kukunya menggores punggung pria itu dan melingkarkan kaki kirinya ke pinggangnya. Semakin lama gerakan pinggul Pak Sabeni semakin mengganas karena nafsunya sudah di ubun ubun, gairahnya seks mereka sudah sangat menggebu-gebu.
Aaah.. aaaaahh.. aaakkhhh.. erangan dan desahan panjang Dokter Lydia terdengar begitu syahdu mengiringi gelinjang tubuhnya menyambut gelombang orgasme yang menerjang
Pak Sabeni merasakan vagina dokter cantik ini begitu mencengkram hangat ketika orgasme sehingga sodokannya semakin diperkuat dan dipercepat. Tangannya semakin kuat mencengkram payudara montoknya. Ia bangkit berlutut merubah posisi Dokter Lydia hingga berbaring menyamping dan menaikkan paha kirinya ke pundak. Vagina Dokter Lydia yang sudah banjir menimbulkan bunyi kecipak setiap pria tua itu menyodokkan penisnya. Pak Sabeni yang berusaha menyusul ke puncak, merasa lebih nikmat dengan posisi Dokter Lydia seperti itu karena penisnya dapat menghujam lebih dalam. Demikian juga dengan Dokter Lydia, perlahan kenikmatan puncak yang belum turun benar naik lagi. Dirasakan jepitan vagina wanita ini lebih terasa sehingga gesekan alat kelamin mereka jadi semakin nikmat. Pak Sabeni semakin menghentakkan pinggulnya ketika dirasakan orgasme sudah semakin mendekat.

Pakk…oohh…oohh, saya mau kulum kontol Bapak…minum sperma Bapak…aahh..please…. pinta Dokter Lydia yang baru mencapai orgasme itu kembali bersemangat.
Pria itu menghentikan goyangannya, ia merasa senang karena ada kenikmatan lain menumpahkan spermanya di dalam mulut wanita cantik ini. Maka dicabutnya batang penisnya dari lubang kenikmatan itu. Dokter Lydia mengatur posisi, ia menekan tombol di samping sehingga sandaran ranjang kembali naik secara mekanis membuat posisinya setengah berbaring. Pak Sabeni segera berlutut mengangkangi Dokter Lydia dengan penis mengacung tepat di wajah dokter cantik itu yang langsung menyambarnya dan mengulumnya dengan nikmat. Benar-benar pemandangan yang penuh sensasi, seorang dokter cantik, terpelajar dan terhormat tengah terbaring telanjang bulat dengan mengulum penis seorang tunawisma buruk rupa yang keras dan basah dengan lendir vaginanya.
Ooohhh…enak bu dokter…!! Pak Sabeni merem-melek, gairahnya seakan semakin terbakar melihat dan merasakan bibir Dokter Lydia melahap dan mengulum penisnya.
Dokter Lydia dengan penuh nafsu mengulum dan menjilati penis itu, cara perlakuannya sungguh mahir sehingga nikmat yang dirasakan pria itu semakin tinggi. Pak Sabeni merasa penisnya semakin sensitif dikulum dan dilumati seperti itu.
AAArrrrgghhhh Aaaaarrggghh!! geraman Pak Sabeni tertahan di tenggorokan ketika tanpa dapat ditahan lagi penisnya menyemprotkan sperma berkali-kali ke dalam mulut Dokter Lydia yang segera dilahap dengan nikmat oleh dokter cantik tersebut. Penis itu dikulum hingga hampir sepenuhnya masuk ke dalam mulutnya sehingga sperma yang tercurah langsung masuk ke tenggorokannya dan tertelan, hanya sebagian kecil meleleh keluar di pinggir bibir tipisnya yang menambah pesona sensualitas.
Tubuh Pak Sabeni meregang tersentak-sentak seiring curahan cairan kenikmatannya yang dengan rakus ditelan Dokter Lydia yang juga menjilati cairan yang meleleh di batangnya hingga tuntas. Keduanya berpelukan sangat erat menikmati orgasme masing-masing sambil terpejam, hanya suara nafas mereka yang terengah-engah saja yang terdengar.
“haduhh…jam istirahat siangnya udah lewat…saya harus kerja lagi Pak, belum urus administrasinya Bapak” Dokter Lydia menengok arlojinya dan segera melepaskan diri dari pelukan pria itu dan turun dari ranjang, ia memunguti pakaiannya yang tercecer dan masuk ke toilet di kamar itu untuk berbenah, tidak sampai sepuluh menit ia keluar dengan sudah memakai kembali pakaian dokternya dan rambut kembali diikat rapi ke belakang.

Bapak santai aja tunggu di sini sampai Pak Hendra kembali, saya turun dulu yah! kata dokter cantik itu membuka pintu.
Hehehe…beres Dok! sahut pria itu di atas ranjang.
Hendra baru kembali sekitar seperempat jam kemudian,
Maaf yah Pak agak lama, tadi sekalian ketemu klien juga soalnya! kata Hendra.
Gak apa-apa, saya juga santai aja kok di sini
Omong-omong Bapak udah makan belum, tadi saya titip pesan kalau bapak lapar makan ke kantin aja dulu atau nyusul kan
Belum sih, belum terlalu lapar soalnya gapapa kok nanti aja!
Setelah check out dan hendak keluar dari rumah sakit itu, mereka berpapasan dengan Dokter Lydia yang baru saja keluar dari kamar pasien untuk pengecekan rutin. Hendra dan Pak Sabeni menyapa dan berbasa-basi sejenak mengucapkan terima kasih atas perawatan selama di rumah sakit. Sebelum berpisah, Pak Sabeni setelah memperhatikan suasana sekitar menyempatkan diri curi-curi meremas pantat Dokter Lydia tanpa sepengetahuan Hendra yang di dekatnya.
Aduh…duh..duh…Dok! Pak Sabeni mengaduh kecil ketika dengan sengaja Dokter Lydia mundur sedikit dan menginjak kaki pria itu dengan sepatu haknya.
Ee…ehh…maaf Pak, gak liat, duh maaf ya! ia pura-pura minta maaf sambil diam-diam melotot dan tersenyum nakal pada pria itu.
iya…iya gak papa Dok,saya juga berdirinya di belakang sih hehehe… kata Pak Sabeni meringis.,,,,,,,,,,,,

#####################

Related posts